Di rumah saya tersedia beberapa mobil, salah satunya adalah mobil jazz berwarna biru yang gampang dikemudikan (karena merupakan mobil automatic). Meskipun bukan hak milik saya (tentu saja mobil tersebut adalah milik orang tua saya), saya diberikan wewenang untuk menggunakan mobil tersebut setiap saat saya membutuhkannya. Meskipun saya sendiri merupakan pelanggan transportasi publik yang cukup loyal, kegiatan saya yang semakin bervariasi dan seringkali membuat pulang larut malam membuat saya sedikit terlena dengan fasilitas mobil tersebut. Saat seluruh keluarga kecuali saya dan adik saya, Amanda, pindah ke Jakarta begitupula dengan mobil-mobil keluarga yang biasanya tersedia. Saya pun tidak memiliki mobil yang bisa saya gunakan setiap saat. Tentunya hal tersebut meresahkan saya karena memang biasanya keresahan muncul saat kenyamanan-kenyamanan yang biasa dimiliki tidak lagi ada. Melihat keresahan saya, orang tua bahkan berpikir untuk membeli satu mobil baru.
Hari ini, saya pergi ke kampus menggunakan angkot. Tidak begitu banyak penumpang di angkot, mungkin dua atau tiga. Saya memilih untuk duduk di sebelah Supir Angkot, di tempat duduk yang paling depan. Sang Supir Angkot terlihat seperti Supir Angkot biasanya. Saya biasanya membagi supir angkot ke dua kategori: yang baik dan yang tidak sopan. Yang ini termasuk kategori kedua. Hal ini terlihat bagaimana Supir Angkot membentak saat seorang penumpang membayar dengan jumlah kurang lima ratus rupiah, cara mengemudi yang ugal-ugalan, dan tentu saja angkot selalu diberhetikan untuk waktu yang cukup lama di setiap tempat pemberhentian strategis. Untung saja saya tidak terburu-buru sehingga saya tidak begitu merasa keberatan dengan “pengeteman” yang dilakukan tetapi tentu saja sikapnya membuat saya sedikit risih.
Bapak Supir Angkot itu selalu menggerutu. Posisi saya yang berada di bangku depan angkot dan di sebelah Sang Supir cukup strategis untuk memulai perbincangan. Dimulai dari gumaman-gumaman sendiri, Bapak itupun akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada saya. “Sekarang ini, angkot itu cuma bisa keiisi satu dua orang. Orang-orang pada pake motor semua. Liat aja depan belakang banyak motor. Udah pada ngga mau naik angkot. Jadinya hidup makin susah.”, kira-kira itu ringkasan keluhan Sang Supir Angkot. Beliau juga menyatakan harapan agar masyarakat yang sudah memiliki fasilitas transportasi pribadi dapat masih mau meluangkan dua atau tiga hari dalam seminggu untuk menggunakan angkot. Semua Beliau katakan dengan logat yang keras, kata-katanya terdengar marah dan kesal.
Saya pun langsung sadar bahwa ketidaksopanan supir angkot kemungkinan besar merupakan wujud frustasi dan cara mengemudi mereka yang serampangan adalah bentuk kekhawatiran. Rasa bersalah pun muncul mengingat bahwa saya seringkali menggerutu saat angkot”ngetem”. Biasaya saya suka mengeraskan dumelan-dumelan saya serta menghentakkan kaki ke lantai angkot beberapa kali untuk menunjukkan bahwa saya terburu-buru.
Percakapan itu pun harus berhenti saat angkot sudah sampai di tempat tujuan. Saya pun memberhentikan angkot dengan mengatakan “kiri, kiri”. Saya memberikan uang dan mengucapkan terima kasih. Sang Supir Angkot tetap menggerutu dan melempar uang dua ribu lima ratus yang saya berikan ke dashboard seperti yang dia lakukan kepada uang yang diberikan oleh penumpang-penumpang sebelum saya. Beliau bahkan tidak membalas ucapan terima kasih yang saya katakan. Karena sudah berbincang-bincang beberapa saat, saya mungkin berharap Sang Supir Angkot bisa bersikap sedikit ramah. Pada saat itu pula saya melihat bahwa angkot telah menjadi kosong. Tidak ada satu bangku pun yang terisi. Mungkin karena itu Sang Supir Angkot masih menggerutu. Mendadak saya merasa tidak membutuhkan mobil lagi. Mungkin saya memang dibutuhkan oleh supir-supir angkot.
Being clear and transparent, I allow the shine to come through and you might be able to see a reflection of yourself on me. As much as I love Indonesia, my true nation is this world, because honesty & kindness know no boundary.