Activities


This is something that I wrote for my Mum right from the bottom of my heart :D

To           : Dr.Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP

  • Member of the RI (Republic of Indonesia) Parliament
  • Mother of Kaca, Amanda, Nilta, and Nahla.
  • Wife of Siswanda Harso Sumarto

Dear Mum,

This morning you have been inaugurated as a Member of RI Parliament. It is such a blissful moment. We are delighted to see you achieving success. However, being a Member of Parliament means that you do not only belong to me and the family but you also belong to so 230 millions of Indonesian citizens. Your time and your capacity just like all human beings are limited. I realised that I can’t always be your priority anymore now.

Of course I will not let my egocentric “daughterish” selfishness of always wanting a mother to nurture me, to take care of bits & pieces of everything I need, prevents Indonesia of having one of its brightest citizens to serve its people. After all for all of this time you have proven that balancing concern and struggle for society with commitment for family isn’t something impossible. So whoever stated that women with influential roles in society or efficacious careers have questionable performances as mothers, definitely never know Hetifah Sjaifudian.

I believe making this world and this nation a better place is a vision of many, including both of us. You have the chance of doing such thing in your hand now. Don’t let it go to waste. I plead to you to set me an example how to make this nation a better place. Show me how to lead because that’s one of the most precious things that a mother can ever give to her daughter.

I am very content to have you serving something much larger than myself. It is auspicious to gain the opportunity of sharing such an incredible mother with the people of the nation that she loves.

I know that you will always commit to your memory that our sacrifice of letting you go is within the purpose of ameliorating the condition of this country and I believe within the next 5 years that is exactly what you are going to do. Also remember that in doing so everyone in your family including me will always support you. Your concerns and your struggles are also ours.

For the nation we both love so dearly.

Your daughter,

Amirah Kaca S.

Bahan- bahan:
1-1/4 cups tepung (all-purpose)
3/4 cup cokelat bubuk
1-1/2 teaspoons baking powder
1/2 teaspoon garam
1 cup mentega (unsalted) dalam temperature ruangan
1-1/2 cups gula bubuk
2 butir telur
1/2 cup susu
1 teaspoon vanilla extract

1. Panaskan oven sekitar 180 derajat Celcius
2. Ayak tepung, cokelat bubuk, baking powder, dan garam. Campurkan di dalam satu mangkok besar.
3. Di mangkok terpisah, kocok mentega dan gula bubuk menggunakan mixer sampai gula benar-benar tercampur. Masukkan telur satu per satu sampai tercampur.
4. Masukkan bahan-bahan kering ke adonan nomer 3 sedikit demi sedikit (1/2 cup) dan campurkan menggunakan mixer.
5. Tambahkan susu dan vanilla, kocok sampai lembut. Tuangkan ke loyang muffin yang sudah dialasi kertas cupcake.
6. Keluarkan cupcake dari oven setelah 15-17 menit.
7. Dinginkan selama 30 menit tetapi kalau mau langsung dimakan juga enak.
8. Setelah dingin, hias cupcake dengan buttercream atau gula bubuk.

Dunia pendidikan memiliki filosofi yang berisi tujuan, aplikasi, dan interpretasi dari pendidikan dan pembelajaran itu sendiri. Untuk lebih spesifiknya, perguruan tinggi yang merupakan bagian dari dunia pendidikan juga mengemban tugas yang mengarah kepada filosofi pendidikan tersebut. M. Hatta mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tugas penting untuk membentuk manusia susila demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, dan cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat.

Di perguruan tinggi, peran mahasiswa yang pokok dalam pendidikan memang untuk belajar dan menimba ilmu. Akan tetapi mahasiswa bukan hanya bisa menjadi penyerap atau penerima ilmu. Status mahasiswa juga memiliki pengaruh yang besar sehingga perannya dalam pendidikan tidak hanya untuk berada di bawah stuktur hirarki institusi pendidikan tinggi. Karena itulah kemahasiswaan terbentuk dan aktor utama dalam kemahasiswaan hanya ada satu, yaitu mahasiswa yang mengemban peran sebagai pembelajar: pembelajar ilmu pengetahuan serta kemampuan-kemampuan yang dapat digunakannya untuk mendukung pengetahuan bidang yang dipelajari.

Dapat dilihat dari pembahasan diatas bahwa, untuk memenuhi tugas perguruan tinggi, setiap mahasiswa diharapkan dapat memenuhi tiga kualitas yang telah disebut. Akan tetapi, pembelajaran yang dimasukkan dalam kurikulum formal institusi pendidikan tinggi biasanya tidak mencakup pengembangan mahasiswa kepada seluruh tiga kualitas yang telah disebutkan. Pendidikan dalam kelas lebih mengarah pada bagaimana mahasiswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan.

Untuk memenuhi seluruh kualitas yang dibutuhkan, mahasiswa membutuhkan sarana untuk mengeksplor pendidikan lebih dari apa yang dipelajari di ruang kelas. Kemahasiswaan berperan sebagai suatu sistem pendukung bagi para mahasiswa untuk dapat membentuk dan mengarahkan diri mereka menjadi mahasiswa yang ideal. Intinya, kemahasiswaan memberi nilai tambah (added value) berupa pengalaman serta kemampuan atau keahlian yang dapat digunakan untuk membuat diri mereka memenuhi syarat dalam bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat serta cakap dalam memangku jabatan di masyarakat. Kemahasiswaan juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sudah memelihara ilmu pengetahuan karena telah mengerti apa yang dipelajari di kelas, untuk memajukan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan ide-ide mereka bersama mahasiswa-mahasiswa lain.

Peran kemahasiswaan dalam dunia pendidikan sangatlah penting karena kemahasiswaan merupakan salah satu elemen yang mendukung tujuan utama dari filosofi pendidikan itu sendiri. Kemahasiswaan merupakan sesuatu yang bisa menggerakkan serta memotivasi para mahasiswa untuk melakukan sesuatu sebagai pembelajar dan seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf Inggris bernama Herbert Spencer bahwa “The great aim of education is not knowledge, but action.”

— essay untuk Fit & Proper Test tahun lalu yang baru ditemukan lagi

“Socrates learned to dance when he was seventy because he felt that an essential part of himself had been neglected.”

Hari ini saat membereskan kamar, saya kebetulan menemukan video dengan label tulisan: Choreography Past + Present Term 1. Wow, ternyata video ini adalah video salah satu dance performance/production yang saya lakukan zaman dulu di Aberfoyle Park High School, Australia dan langsung terbawa ke memori-memori saat itu. Sesuai dengan label di video tersebut, tema dari dance production tersebut adalah mengadaptasi berbagai macam karya koreografer-koreografer terkenal sepanjang masa. Saya sendiri (bersama kelas saya) ikut dalam dua tarian, yang satu terinspirasi oleh Doris Humphrey dan yang satu lagi terinspirasi oleh Bob Fosse.

Untuk tarian pertama, saya dan teman-teman mengadaptasi tarian “Water Study” yang merupakan salah satu karya koreografi Doris Humphrey dan menamakan tarian kami “Aqua Essence”. Doris Humphrey sendiri adalah salah satu pioner tari modern Amerika, setipe dengan Isadora Duncan. Hal tersebut terlihat pada penemuan teknikal Humprey tentang ide mengenai “fall and recovery”. Humprey melihat kehidupan dan tarian sebagai “busur diantara dua kematian” atau “arc between two deaths”. Dua kematian yang dimaksud disini adalah keheningan sebelum dan setelah keheningan. Humprey tidak terlalu tertarik presentasi visual dari tarian itu sendiri, tetapi tariannya dapat bergerak dalam waktu dan ruang sehingga menciptakan ritme yang melebihi suatu efek visual.  Di zaman tersebut saat kebanyakan koregorafer masih memiliki obsesi terhadap gerakan yang bersifat balet dengan gerakan yang memaksa tungkai dan lengan, Doris Humprey menciptakan kesepahaman antara tarian dengan gravitasi yang merupakan gaya universal yang memotivasi tubuh. Bahkan Doris Humprey mengatakan, “A movement without motivation is unthinkable”.
Tarian water study merupakan salah satu karya terkenal Doris Homprey, dan tarian originalnya tidak memakai musik dalam pertunjukannya. Jadi bisa dibilang tarian ini dimainkan dalam kesunyian. Tetapi, untuk pertunjukan Aqua Essence, kami memakai musik, takut orang-orang tidak bisa mengerti atau mungkin mengira bahwa sound system-nya rusak. Akan tetapi, penerapan prinsip-prinsip Humprey tetap diterapkan dalam tarian tersebut.

Tarian yang kedua sebenarnya merupakan karya tarian kelas lain, dan kelas saya cuma menjadi “figuran” disana. Mengangkat tema “Chicago” yang merupakan salah satu karya Bob Fosse yang terkenal. Tarian kedua ini memakai lagu “All that Jazz” yang pasti langsung mengingatkan orang pada panggung musikal Chicago. Tarian yang kedua ini bercerita tentang sekumpulan gadis-gadis yang melakukan audisi tari. Disaat teman-teman kelas lain yang berperan sebagai gadis lolos audisi memakai kostum hitam-hitam elegan dengan stocking jala-jala dan terlihat cantik, saya yang berperan sebagai gadis yang kalah audisi cuma memakai Tshirt dan training (yang hitam-hitam juga) yang tidak terlihat manis hahaha. Memang sudah peran. Tarian tersebut bukan spotlight bagian saya, tetapi siapa yang bisa menolak untuk menari?

Mengingat beberapa hari yang lalu waktu melihat acara Grand Fina Mojang Jajaka Jawa Barat, salah seorang finalis ditanya mengenai pendapatnya tentang aturan yang mengharuskan kuota calon legislatif sebesar 30%. Finalis tersebut (saya lupa dari mana), yang tentu saja wanita, memberikan jawaban panjang lebar yang kurang lebih meliputi bahwa hal itu dikarenakan wanita memiliki tingkat intelegen yang sama dengan pria, bahwa wanita memiliki kepemimpinan dengan kelembutan hati dan kepintara, pernyataan dia bangga menjadi wanita dan tentu saja contoh-contoh komprehensif tentang pemimpin-pemimpin wanita di Indonesia dan di dunia. Saya sendiri lupa dia ngomong apa, yang pasti jawaban dia terdengar sangat baseless dan tidak relevan.

Bila kita pikirkan, aturan kuato caleg yang minimal 30% wanita sebenarnya merupakan indikasi bahwa bahkan pada zaman sekarang dimana kedua gender katanya sudah berkedudukan sama, ternyata wanita masih menghadapi berbagai halangan dan tantangan untuk dapat bisa berkecimpung di bidang politik. Halangan dan konstrain tersebut saya kira merupakan faktor -faktor eksternal seperti sempitnya ruang gerak dalam parpol untuk politikus wanita dan preferensi dunia politik yang masih lebih mengedepankan calon Pria dibandingkan calon wanita. Padahal di dunia politik yang memiliki budaya maskulin, perempuan patut menjadi agen perubahan. Faktor internal sendiri tidak menjadi masalah, karna banyak wanita yang memiliki kompetensi yang sama atau mungkin lebih bagus dari Pria.  Jadi saat finalis tersebut mengatakan bahwa wanita memiliki kecerdasan dan kemampuan dan kualitas yang sama dengan pria, saya setuju. Tetapi dia tidak menyatakan fakta, bahwa bahkan dalam keadaan equal dengan pria, ternyata wanita masih belum diberikan kesempatan yang sama.

Dengan kondisi sejauh ini yang masih kurang mendukung wanita untuk dapat maju dalam kancah politik, tentunya aturan 30% ini penting untuk menciptaan keadaan yang lebih mendukung dan kondusif bagi wanita. Saya rasa aturan ini dapat berfungsi untuk menghilangkan barrier-barrier dan konstrain yang dihadapi wanita di bidang politik yaitu masih belum adanya penerimaan secara penuh terhadap calon wanita maupun preferensi masyarakat politik yang nota bene masih dikuasai oleh kaum Pria. Bila saat ini jumlah calon wanita 30% terwujudkan dan dalam beberapa tahun publik maupun masyarakat politik dapat melihat kompetensi-kompetensi wanita-wanita yang ada, persepsi dan preferensi yang tidak menghambat gerak wanita dalam politik tentu akan menghilang (atau berkurang). Tentu saja aturan ini dimaksudkan hanya untuk menciptakan masa transisi. Saya sendiri mengharapkan di masa depan aturan ini sudah tidak relevan atau dibutuhkan. Saya mengatakan hal tersebut karena bila pada saatnya sudah mencapai kondisi ideal dan tidak ada lagi barrier maupun konstrain yang menghambat wanita untuk ikut serta dalam politik, saya yakin calon legislatif wanita bisa mencapai angka lebih dari 30%, tanpa adanya aturan mengenai proporsi caleg wanita.

Saya ingin mendengar pertanyaan grand final Moka tersebut dijawab dengan pendapat yang lebih kritis dan tepat sasaran. Tapi itulah kelemahan pageant, susahnya memberikan jawaban singkat untuk sebuah topik (yang sebenarnya membutuhkan analisis yang cukup dalam) di panggung yang penuh dengan pernak-pernik.

Saya yakin kebanyakan warga Bandung mengalami sakit hati yang sama seperti saya begitu mengetahui bahwa Babakan Siliwangi akan segera dikomersialisasikan. Saya sudah tidak perlu menuliskan lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah kota dengan membuat kebijakan ini atau dampak-dampak buruk yang akan terjadi karena sudah banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Bahkan bila tidak mengetahui secara pasti, bisa langsung dibayangkan dampak-dampak buruk tersebut.
Tidakkah aneh bila seorang pengambil kebijakan di kota sebesar Bandung tidak bisa menyadari kebutuhan warganya? Para ahli tata kota, lingkungan, sosial yang ingin ikut serta membicarakan hal ini atau ingin mencari informasi dihalang-halangi (saya tahu dari seseorang). Apakah kurang jelas bahwa dampak buruk lingkungan yang akan terjadi tidak sebanding dengan pendapatan yang akan diterima pemerintah dari investasi (kalau Bandung jadi hancur karena banjir dan air habis apa masih ada yang mau investasi!!!!)? Apakah kurang jelas juga bahwa warga lebih membutuhkan ruang terbuka yang inklusif dibandingkan dengan mall yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya? Saya rasa pejabat-pejabat kota Bandung tidak sebodoh itu.. Sepertinya mereka tidak melakukan ini untuk kesejahteraan warganya dan tentu saja ada aspek politis dari isu ini. Mengapa walikota kita menahan izin pembangunan di babakan siliwangi saat periode pemilu walikota, tetapi setelah terpilih kembali dan dilantik, langsung memberikan izin? I think we all can see clearly what happened. I guess people can do anything for power, even if it means the destruction of others..
PS: Saya sudah lihat bahwa banyak teman-teman saya yang menuliskan tentang Babakan Siliwangi di blog mereka. Saya rasa kita semua peduli dan sedih akan hal yang sama.

By the way, you can read about my Mum’s opinion on this issue here

Di Pagelaran LSS 2008,
Tari rakyat bubuka: penari jadi centil.
Tari menak bubuka: penari tampak anggun.
Tari Kandagan: penari berlagak gagah.
Tari Jaipongan Bentang Timur: penari terlihat menggoda!!!
That shows how women can be attractive in many ways..

(Jadi kangen masa-masa latihan nari & persiapan pagelaran LSS 2008 kemaren..hix.. Glad and sad it’s over at the same time)

This world has plenty of very complicated problems.

Pandita has to think about “Security in Gaza Strip” and “Maritime Piracy” in the Disarmament and International Security Committee (DISEC)

Dedie has to think about “Hedge Funds and Security Regulations” and “Public Private Partnerships” in Economic and Financial Committee (ECOFIN).

Nina has to think about “Free Elections” and “Migrant Workers” in Social, Cultural and Humanitarian Committee (SOCHUM)

Ibnu has to think about “Water Sanitation and Purification” and “Preparing for Deliberate Epidemics: Bioterrorism” in World Health Organisation (WHO)

Billy has to think about “Child Soldiers” in the World Summit of Children

Nia has to think about “Free Trade Policies and the Poorest States” and “Free Trade and the Environment” in the Futuristic World Trade Organisation (WTO)

And me, I have to think about “Terrorism in Africa” and “the Basque Seperatism” in the Special Political and Decolonization Committee (SPECPOL).

I told you, it’s a very very complicated world and it is all of our responsibilities to change it. It is not impossible to change the world, for the better of course.

Maybe some of you have tried sending a message to my phone or even try to call me in the few last days and failed. I have lost my phones, both of them. My lovely Palm Treo 650 and my Nokia which I use for my CDMA (fren) number are both gone in the hand of a stealer. The story is pretty interesting really, coz I lost my phones in my car. The story started when I hit a motorbike or a motorbike hit me. The car and the motorbike was actually alright, but it’s just in my nature to panic like crazy. I got out of the car and the person was like yelling and telling me off and there was this person who just got into our conversation as well. I was soo panic and almost burst out in tears. The motorbike was alright and my car was alright too. Both of the people who talked to me went and I was on my way to go too. Suddenly, I realised that my phone went missing and burst out in tears again (crybaby!!! =P). I went back home.. and cried my heart out.
My Mum said everyone has to lose a mobile phone once in a while because it’s just everywhere and phone-stealers just keep getting better and better in their way of stealing so sometimes we just can’t avoid them. She continued with her old usual saying of “It’s okay as long as you are safe..” (That’s what she always say everytime I put scratch or bump or do anything to ruin my Honda Jazz). On the other hand, my Dad told me off for hasn’t been synchronizing my data for such a long time. “What’s the point of having a PDA if you don’t synchronize it regularly!,” he said.
Letting my Palm Treo go is sad but reliefing in the same time. It is sad just like a goodbye with an old friend that you know you will never meet again. It’s true that my Palm Treo has been the witness of everything I did for the past one year. I never have to delete any single message I recieved since I got it and it has records of everything I did for the past one year. It has more data than my laptop.
On the other hand, losing a phone is nice if you really think about it. I realised before losing my phone I always get annoyed with phone calls or messages and yes I almost got in some point when I feel like throwing my phone away. I used to put my mobile away in a drawer or just simply do not reply messages or do not answer phonecalls if I don’t feel like it but I don’t do that anymore because I consider it as a dishonest act. If I don’t feel like answering someone’s call, I should have just answer it and say that I don’t feel like talking to you, but of course I don’t have the heart to say that. The conclusion is that losing my phone is like a way of get the hell of those messages and phone calls without feeling guilty. It’s also reliefing because it’s like you drop your past. Whatever happened in the past just go and you will start a new time where you rebuild your life and network.
Those are my story, and today my time of missing mobile has ended. My Mum bought my dream mobile phone which is the lucious red Palm 680, therefore her old Palm650 (which is exactly the same type as my old mobile) belongs to me and I already got the same Nokia phone for my Fren number. Both of them are active now. Anyone is welcome to contact me again. It’s time to rebuild life and network for me.

Yesterday (09/09/2007) I spent almost 7 hours in the “Seni Abadi” photo studio which is a small (not exactly small, but smaller than Jonas) located in the corner of Jl. Merdeka and Jl…. (I forgot) and next to the railway. Let’s follow my day chronologically:

I came to the photo studio at about 12 pm, sat down at the digital photo section which was on the left of the entrance door, talked to a smiling lady who welcomed me right away and asked her how much is it to print some picture. She told me that it was Rp.800 for each 3R (postcard) photo printed. I asked her to give me at a lower rate. She insisted that she couldn’t give a lower price, still with a smiling face, and said they only give lower price to special customers.

“I will print more than 1000 photos.”, I told her.

She paused and get the manager right away.

After a negotiation with the manager of the store, I got the price that I wanted… Firstly he gave me Rp.750,00, I asked for less.. He then give me Rp.600,00, I asked for Rp.500,00… and it was a deal right away.. =D

My job doesn’t stop there, because in my laptop I have so many photos that my Dad asked me to print, and they weren’t sorted. My next job was to sort out those pictures. It was meant to be really a tedious job staring staring at the computer screen for that long time, along with one of the staff there, sorting out the photos like deleting blurred ones and fixing red eyes and choosing each ones, but it wasn’t really. I got to have some flashbacks of “my life with my family” for the past four years and realising that my Dad SLR camera actually came into use (I kept thinking Daddy bought that thousand dollar SLR camera to look cool because he doesn’t knows much about photography – sorry Dad =P). I got to laugh together with the staff seeing my sisters making funny faces camera and had fun sharing stories about our family holiday skiing at Mt.Buller, Melbourne and my parents’ “2nd honeymoon” in Cambodia & Bangkok (in which they didn’t get any of us to come, sight), and the renovating of my grandmother’s house in a village at Klaten, and so on. Hours passed with a headache and hurting eyes for staring at the computer screen for song long and lots of fun.

I am glad finally about my Dad’s little obsession on documenting events. We sometimes get embarassed when our Dad kept insisting to stop and take photos so often on so many occassions, but hey it’s all worth it. Seeing those photos again make me tremendously happy to feel all the memories of what we had been through this time and realise how precious all those time we spent together (even though I somehow get irritated to realise how hideous I used to look 4 years ago).

One time my Dad asked me and Amanda (my sister), “If the house burnt down, what would you save first?”

We answered, “Money, passport, important documents, expensive electronics etc etc”

Then my Dad said, ” No, what you are supposed to save first are photos and other products of memories. Money you can regain, Important documents you can remake, expensive electronics you can rebuy. However, photos and other things with a value that cannot be found anywhere else cannot be regain..”

Fair enough, now I remember what to save fist when our house is on fire: My postcard and letter collection from friends, scrapbook made by my Aussie friends along with other albums, last not least the book “To Kill a Mockingbird” ( I will want to save the whole shelves if possible though)

Next Page »