Saya yakin kebanyakan warga Bandung mengalami sakit hati yang sama seperti saya begitu mengetahui bahwa Babakan Siliwangi akan segera dikomersialisasikan. Saya sudah tidak perlu menuliskan lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah kota dengan membuat kebijakan ini atau dampak-dampak buruk yang akan terjadi karena sudah banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Bahkan bila tidak mengetahui secara pasti, bisa langsung dibayangkan dampak-dampak buruk tersebut.
Tidakkah aneh bila seorang pengambil kebijakan di kota sebesar Bandung tidak bisa menyadari kebutuhan warganya? Para ahli tata kota, lingkungan, sosial yang ingin ikut serta membicarakan hal ini atau ingin mencari informasi dihalang-halangi (saya tahu dari seseorang). Apakah kurang jelas bahwa dampak buruk lingkungan yang akan terjadi tidak sebanding dengan pendapatan yang akan diterima pemerintah dari investasi (kalau Bandung jadi hancur karena banjir dan air habis apa masih ada yang mau investasi!!!!)? Apakah kurang jelas juga bahwa warga lebih membutuhkan ruang terbuka yang inklusif dibandingkan dengan mall yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya? Saya rasa pejabat-pejabat kota Bandung tidak sebodoh itu.. Sepertinya mereka tidak melakukan ini untuk kesejahteraan warganya dan tentu saja ada aspek politis dari isu ini. Mengapa walikota kita menahan izin pembangunan di babakan siliwangi saat periode pemilu walikota, tetapi setelah terpilih kembali dan dilantik, langsung memberikan izin? I think we all can see clearly what happened. I guess people can do anything for power, even if it means the destruction of others..
PS: Saya sudah lihat bahwa banyak teman-teman saya yang menuliskan tentang Babakan Siliwangi di blog mereka. Saya rasa kita semua peduli dan sedih akan hal yang sama.
By the way, you can read about my Mum’s opinion on this issue here
September 24, 2008 at 5:56 pm
satu cara yang bisa kita lakukan: memberi tahu sebanyak mungkin orang mengenai pentingnya masalah ini….
ps: kalo beruntung, si Da*a bisa lengser gara2 ini…. ^_^
September 27, 2008 at 4:05 am
Kesalahan tidak hanya terletak pada pelaku kebijakan dan pengembang baksil. Kita, selaku orang-orang yang berilmu dan paham mengenai masalah lingkungan hidup juga mestinya gencar mengkampanyekan masalah ini.
Aniwei udah baca poster di selasar ngoprek? disana terdapat fakta2 tentang baksil.
September 28, 2008 at 8:42 pm
Tentu saja kesalahan tidak hanya terletak pada pengambil kebijakan dan pengembang. Tetapi pada saat warga sudah berbicara tetapi tidak didengar, ingin membantu tetapi tidak diberi kesempatan, ingin tahu tapi tidak dibolehkan, siapa yang tidak bijak? Tapi saya kurang lebih memang percaya kepada pendapat David Mathews di “Politics of People” yang menyatakan bahwa di dalam suatu democratic society, setiap individu BERTANGGUNG-JAWAB atas pilihan mereka dalam election.. Dengan kata lain dalam kasus Bandung dan Babakan Siliwangi, lebih dari 60% warga yang memilih “kamu tahu siapa” bertanggung jawab juga mengenai masalah ini. Atau mungkin kita orang yang lebih politically smart bertanggung-jawab karena kurang bisa memberikan pendidikan politik pada yang kekurangan? I guess it’s all our fault too.
September 28, 2008 at 8:45 pm
@ Radix: Benar sekali. Kita tidak boleh berhenti berteriak dan menuntut keadilan bagi kota ini. Mengutip Mamaku nih: “Di zama reformasi ini, bukankah pendapatan partnership dianggap lebih tepat ketimbang pendekatan konfrontatif? Sayangnya orang sering lupa bahwa pendekatan kemitraan hanya bisa efektif manakala ada kesetaraan posisi tawar antara berbagai pihak yang bermitra.”
Apakah ada kesetaraan posisi tawar dalam kasus ini? I don’t think so….
April 11, 2009 at 2:40 am
gmn skrg lanjutan baksil?