September 2008


I came from the dreamtime from the dusty red soil plains
I am the ancient heart, the keeper of the flame
I stood upon the rocky shore
I watched the tall ships come
For forty thousand years I’d been the first Australian.

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.
I came upon the prison ship bowed down by iron chains.
I cleared the land, endured the lash and waited for the rains.
I’m a settler.
I’m a farmer’s wife on a dry and barren run
A convict then a free man I became Australian.

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.
I’m the daughter of a digger who sought the mother lode
The girl became a woman on the long and dusty road
I’m a child of the depression
I saw the good times come
I’m a bushy, I’m a battler
I am Australian

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.

I’m a teller of stories
I’m a singer of songs
I am Albert Namatjira
I paint the ghostly gums
I am Clancy on his horse
I’m Ned Kelly on the run
I’m the one who waltzed Matilda
I am Australian

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.

I’m the hot wind from the desert
I’m the black soil of the plains
I’m the mountains and the valleys
I’m the drought and flooding rains
I am the rock, I am the sky
The rivers when they run
The spirit of this great land
I am Australian

(chorus)
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian
I am, you are, we are Australian.

by Judith Durham

Saya yakin kebanyakan warga Bandung mengalami sakit hati yang sama seperti saya begitu mengetahui bahwa Babakan Siliwangi akan segera dikomersialisasikan. Saya sudah tidak perlu menuliskan lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah kota dengan membuat kebijakan ini atau dampak-dampak buruk yang akan terjadi karena sudah banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Bahkan bila tidak mengetahui secara pasti, bisa langsung dibayangkan dampak-dampak buruk tersebut.
Tidakkah aneh bila seorang pengambil kebijakan di kota sebesar Bandung tidak bisa menyadari kebutuhan warganya? Para ahli tata kota, lingkungan, sosial yang ingin ikut serta membicarakan hal ini atau ingin mencari informasi dihalang-halangi (saya tahu dari seseorang). Apakah kurang jelas bahwa dampak buruk lingkungan yang akan terjadi tidak sebanding dengan pendapatan yang akan diterima pemerintah dari investasi (kalau Bandung jadi hancur karena banjir dan air habis apa masih ada yang mau investasi!!!!)? Apakah kurang jelas juga bahwa warga lebih membutuhkan ruang terbuka yang inklusif dibandingkan dengan mall yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya? Saya rasa pejabat-pejabat kota Bandung tidak sebodoh itu.. Sepertinya mereka tidak melakukan ini untuk kesejahteraan warganya dan tentu saja ada aspek politis dari isu ini. Mengapa walikota kita menahan izin pembangunan di babakan siliwangi saat periode pemilu walikota, tetapi setelah terpilih kembali dan dilantik, langsung memberikan izin? I think we all can see clearly what happened. I guess people can do anything for power, even if it means the destruction of others..
PS: Saya sudah lihat bahwa banyak teman-teman saya yang menuliskan tentang Babakan Siliwangi di blog mereka. Saya rasa kita semua peduli dan sedih akan hal yang sama.

By the way, you can read about my Mum’s opinion on this issue here

Since the fasting month I haven’t touched my mixer or turned on my oven. I am planning to make some pavlovas and apple-cinnamon muffin. Here are some pictures of cupcakes I have made: The strawberry-with-cream, the vanila-with-chocolate-frosting, and the oreo-cupcakes.