Finally, a new book by Ayu Utami is out. As a fan of her previous works (Saman & Larung). I couldn’t be any more excited than this. I bought the book “Bilangan Fu” in Toga Mas and finished it in less than one day. Surely it was engaging but reading “Bilangan Fu ” is more like reading Dewi “Dee” Lestari than reading Ayu Utami. I guess, “Bilangan Fu” is a bit more “pop” than Saman or Larung and it concentrate more on youthful self-fulfilling ambitions and surely the characters are lack of maturity and wisdom. Not only that, Ayu Utami put less politics and more spiritualism in this book. Another hint is, the book criticize propaganda monotheism and give support to Eastern beliefs. No wonder it sounds like Akar by Dewi Lestari. One thing that bother me, the character parang jati doesn’t sound at all like a person teknik geologi ITB =P I have to admit, he doesn’t even sound or act like an ITB students at all!!
Well the point is, I like Saman & Larung much better than this new book. Saman is so much thinner but for me it contains a world many times bigger than the one contained in Bilangan Fu. Bilangan Fu felt too weak, in characterization, writing style and editorial. I have to admit, I was left a bit dissapointed because I didn’t find the words shining like what I found in Ayu Utami’s previous book. However, still worth reading..
July 19, 2008 at 5:44 am
wah…
)
ntar aku minjem ya…
sekarang aku tamatin dulu “Dunia Sophie” kamu
~Radix
July 27, 2008 at 9:26 am
Senangnya…
*selalu dan selalu nggak punya banyak waktu buat baca, goddamn work and project*
Menarik, menarik…melihat buku nasional makin banyak yang mengusung tema seperti itu.
*tapi sayangnya kendala waktu lagi-lagi, ah…*
July 28, 2008 at 12:38 pm
@ Goen: Meskipun tidak ada waktu usahain baca deh, tapi saran aku utamakan baca Saman & Larung aja (like I said, they’re much better)
@ Radix: Woi, balikin buku2 aku!!
July 28, 2008 at 7:03 pm
Nggak ada waktu maksudnya waktu buat baca sudah disita sama buku-buku aneh…
*disalib*
…dan kalau ke Toga Mas (apalagi harganya) memang banyak godaan.. >__>
October 12, 2008 at 1:32 am
Gue udah baca buku ini. A nice book. Merupakan kritik “ringan” terhadap modernisme-monoteisme- dan militerisme.
Khusus yang terkhir itu rasanya ga relevan lagi saat ini. Soaalnya tentara udah ga berkuasa seperti saat si parang jati hidup.
Gue bisa mengunyah buku ini dengan gampang. Tidak seperti Larung dan Saman. makanya bisa disebut seabagai kritik yang gampang dikunyah. Sederhana dan simpel.
Karkater yang gue suka? Parang Jati, si malaikat. Kata-kata yang sampai saat ini gue ga ngerti sampe sekarang: kebenaran harus dipanggul, kalo tidak, akan jatuh ke tanah dan menjadi hukum. Tidakkah apabila kebenaran hanya dipanggul oleh sebagian tertentu kebenaran hanya akan menjadi komoditas sebagian orang?
Apa kamu bisa menjelaskan hal ini, ca?
October 12, 2008 at 8:20 pm
[...] dekadensi bila dibandingkan dua saudaranya itu. Kehilangan kemilaunya bila memakai istilah Kaca. Saya pribadi berpendapat kalo buku ini seperti spiritual kritis yang ngepop. Berusaha memberikan [...]