OMG OMG
gimana nih, Brigas tugas selama liburan banyak banget. Benar2 tidak berperikemanusiaan, tugas yang dikasih lebih banyak dari tugas kuliah??!! Gimana nih, secara liburan itu waktu untuk bermalas-malasan, tapi dengan alasan kita harus memiliki integritas (tau ngga pas wawancara brigas, ditanya apa arti integritas? aku malah jawab arti "integrasi" yang sering disebut-sebut di PTI) dan komitmen dll dan kita adalah mahasiswa siap guna dll jadi intinya harus ngerjain.. Bisa ngga sih nulisnya pakai bahasa Inggris aja?? Susah nulis dengan bahasa Indonesia!!!

Ok, tugas pertama Peta Hidup:

Ok, mau nulis apa ya? Tanggal 28 Februari 1989 yang indah saya lahir di dunia di siang hari tepatnya pada jam 11.25 dan diberi nama "Amirah Kaca" (biar orang2 tau kalau nama asli saya itu beneran KACA) Saya lahir sebagai anak pertama dan juga cucu pertama. Karena itulah, semasa kecil saya sangat dimanjakan.
(Autobiography.. Nulis apa lagi ya.. soalnya hidup saya kok ngga penting2 banget, jadi kalau di autobiography-in jadinya rada garink). Saat umur saya empat tahun, adik pertama saya, Amanda Kistilensa lahir. Terus waktu saya tujuh tahun adik yang selanjutnya, Asanilta Fahda lahir. Beberapa tahun setelahnya (I lose track) maybe when I was 9 or 10, satu lagi lahir, Nahla Tetri Mulya. Jadi sekarang, we’re like four sisters, like the Little Women written by Louisa May Alcott.
Terus apa lagi ya? Oia, setelah lulus TK, pada umur lima tahun saya masuk SD di SD Islam Salman (kalau ngga salah masuk situ deh), tetapi setelah dua tahun pindah ke SD Islam Ibnu Sina. (Aduh.. kok bisa lupa masa kecil sendiri).. Ya, masa SD saya tidak begitu membahagiakan. Cuma inget sering dimarahin guru karena males ngerjain PR dan sering diejekin temen item, gendut dan jelek dan lain2nya yang benar2 menyedihkan untuk saya yang waktu itu masih SD. Sampai saat ini saya masih dendam dengan orang2 itu (kidding).. Hiks Hiks Hiks.. Ya jadi ngga bahagia2 banget sih waktu SD.. Setelah lulus SD, karena milih SMP 5 dan SMP 2 dan kejeblos, akhirnya masuk SMP Taruna Bakti. Di SMP Taruna Bakti, jujur aja tidak begitu bahagia tahun pertamanya.. stress disitu.. tapi setelah naik ke kelas 2 keadaan membaik. Akhir tahun, setelah kelas 2 selesai, harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman2 SMP (yang akhirnya banyak yang ketemu lagi di ITB) karena harus pindah ke Adelaide, Australia.
Sebenarnya hidup saya terasa baru dimulai ketika pindah ke Australia. Mungkin karena hidup saya sebelum ke Australia kurang bahagia? Atau mungkin juga karena saya mulai belajar tentang hidup dan mulai mengembangkan karakter saat saya berada di Australia.
Saat saya pindah ke Australia, umur saya 13 tahun. Saya memulai sekolah di suatu sekolah internasional bernama "Adelaide Secondary School of English". Mungkin harus saya akui, ini salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup saya karena saya berteman dengan orang2 dari berbagai macam negara. Name it.. mulai dari Sudan dan Kenya sampai Chille, sampai Jerman, Bosnia, Filipina, Afganistan, Prancis, dan lain-lain. Dulu saya sempat ngitung2 bisa bilang "Halo" dan "How are you?" dalam lebih dari 20 bahasa!!!! Sayang ngga dicatet, jadi sekarang udah lupa tuh!! Tapi bagi saya yang selalu tertarik dengan kebudayaan asing, sekolah di sekolah internasional was quite a heaven, biarpun saya hanya disana selama enam bulan.
Setelah kurang lebih enam bulan berada di sekolah internasional, saya pindah ke sekolah "mainstream" yaitu sekolah publik/pemerintah biasa, "Aberfoyle Park HS". Berbeda dengan Adelaide Secondary School of English yang penuh dengan siswa internasional dan imigran, Aberfoyle Park HS, karena berada di kawasan elit suburb Selatan, jarang sekali murid2 internasional atau murid2 imigran dari berbagai macam negara. Kebanyakan murid disana adalah warga negara Australia asli, atau imigran dari Inggris kalau tidak Irlandia. Sebenarnya, pindah ke APHS (Aberfoyle Park Highscool) was quite good. It made me feel special.. secara ngga banyak orang dari luar negeri yang sekolah disitu. Selain itu di angkatan saya, perasaan cuma ada dua orang Asia selain saya (dan kedua-duanya sudah di Australi sejak lahir atau dari kecil), dan beberapa orang lagi tapi mereka semua blasteran semuanya .. Filipin-Itali, Filipin-Spanyol, Vietnam-Prancis, Indonesia-Australi.. dan saya asli Indonesia. And I don’t know why, bahkan setelah Bali-Bombing dan Australian-Embassy bombing, I keep saying proudly that I’m an Indonesian.
At the APHS, I think I did very well. Sejujurnya, pelajaran di Australia kalau IPA-nya, jauuuuhh lebih mudah kalau dibandingkan dengan bobot pelajaran di Indonesia. Kalau IPS-nya sih relatif, karena IPS disana tidak pernah dihubungkan dengan menghafal, tapi dengan banyak tugas menulis. Karena sudah terbiasa dengan pelajaran IPA yang tidak berperikemanusiaan di Indonesia, IPA disana sangat mudah. Seingat saya, setiap pelajaran Matematika saya selalu bolos (terutama kalau pelajaran terakhir hari Kamis, biasanya saya langsung ke mall sama teman2), dan sebelum Exam atau ulangan saya sering nonton bioskop, and suddenly, 100%.. Pokoknya selama di Australi, ngga ada tes yang dibawah 90% (tapi kenapa hasil UTS 1 kalkulus pas2an?? Hehehe). Sama dengan Fisika (Tapi kenapa hasil UTS Fiskia jeblok?? hehe), Kimia, dan lain-lain, tapi pelajaran favorit saya sebenarnya "Dance" dan "English Literature". Biarpun "English Literature" adalah pelajaran yang paling bikin stress dengan semua resume buku, review film, dan presentasi yang sekian banyak, dan exam yang waktunya lama and all you have to do is write write write.. Tetapi mata aran inilah yang memberikan saya paling banyak pelajaran.. and the one who got me into the most beautiful books ever "To Kill a Mockingbird" dan "The Great Gatsby".. Buku2 yang Ms. Smith bilang sebagai buku yang paling tidak harus dibaca satu kali setidaknya dalam hidup seseorang. Ms. Smith adalah orang yang membuat saya sadar, bahwa, satu buku bagus yang tiidak dibaca sama saja dengan satu momen indah dalam hidup kamu yang tidak kamu rasakan. Sekolah di Australia, was very easy, and beautiful. Tidak begitu menuntut banyak dari murid-murid dan tidak begitu membebani sehingga setiap orang punya kesempatan untuk menikmati hidup. Hampir semua rapot semester saya selama saya di Australia kecuali dua, had straight A’s and I don’t think I ever study.
Selama di Australia, saya juga dapat banyak pengalaman kerja. In fact, I got my first job before I got my first boyfriend. How’s that. Sebenarnya kerja pertama yang saya lakukan adalah "Cherry Picking", lumayan hanya dalam satu setengah hari sudah dapat $120, dan setelah itu sempat beberapa hari di "Global Education Center" sebagai Library Assistant, tetapi kerja part-time yang pertama saya dapatkan adalah di sebuah kafe noodle "Wok in a Box". Saya tahan disana lumayan lama, mungkin karena saya bertemu banyak teman2 baru, dan kita semua get along. Saya sangat menikmati pekerjaan pertama saya, kira2 dua puluh per minggu (20jam/minggu adalah waktu kerja maksimal untuk international student yang sudah ditetapkan pemerintah Aussie), dan biasanya saya menemukan teman2 baru diantara para pembeli dan pelanggan. I remember there was this hot guy.. namanya (kayaknya udah lupa deh) yang pasti selalu dateng (to see me ^^) every single Friday (oops, I guess I don’t need to put this one on my autobio). Tapi sayangnya setelah saya pindah kerja, kita ngga pernah ketemu lagi.
Back to the work story, pada awalnya saya bahagia kerja disana, cuma entah kenapa, perusahaan membuat banyak peraturan baru yang kurang menyenangkan bagi para pegawai. Saya merasa dieksploitasi dengan roster yang hampir setiap hari tapi dengan jam sedikit, dan juga saya paling sebal dengan peraturan bahwa jam tutup adalah jam 12 dan saya cuma dibayar sampai jam 12.30 untuk beres2 dan mereka tidak akan memberikan lebih apabila kebetulan sebelumnya ekstra sibuk dan saya butuh waktu lebih untuk beres2. Setelah itu, tidak ada pembayaran double untuk hari Minggu dan mereka selalu menggunakan saya, pekerja dengan umur paling muda (umur lebih muda = bayaran lebih murah murah) untuk bekerja di hari libur dan shift tengah malam. Mereka juga menghapus softdrink dan food allowance (sebelumnya pekerja dapat makanan gratis untuk setiap istirahat dan softdrink gratis untuk para pekerja). Karena sudah tidak tahan terhadap perusahaan dan pihak manajemen yang tidak mendengar keluhan saya, dan tidak bisa memberikan saya shift siang, saya memutuskan untuk keluar. Untuk beberapa lama saya memutuskan untuk tidak bekerja..so all I did was school, go out, have fun!!! Tetapi setelah sekian lama, saya menginginkan kembali aktivitas ekstra, dan uang ekstra.. so I was back on the job search.. Setelah mengirimkan resume ke beberapa tempat.. saya dipanggil untuk sebuah interview di "Boost Juice Bar" which was everyone’s part-time dream job. Setelah lulus group-interview dan personal-interview, saya diterima. It was the coolest job, karena boost lebih mengutamakan casuality daripada formalitas dalam pelayanan pembeli. Jadi, semua pekerja bebas untuk nari2, loncat2, main game "Celebrity Head", menggunakan kostum, yang penting pembeli dilayani dengan baik. It was okay, tapi setelah empat bulan bekerja disana saya harus pulang ke Indonesia.
Going back to Indonesia was one of the hardest thing.. I have to admit, I had everything in there. Academical Excellence, Beasiswa utk further study, a fun Job, The Bestest Friends, and I had to leave all those. Tetapi entah sejak kapan saya memiliki filosofi, "Life can only get better!" sehingga saya dapat melihat kesempatan2 yang akan datang.
Saya sadar saya kembali ke Indonesia di saat paling tidak tepat.. Januari 2006.. 4 bulan sebelum UAN.. 6 bulan sebelum SPMB.. Never expected that those two would be so hard.. dan yang lebih parah lagi, karena seperti saya bilang bahwa Australia bobot pelajarannya jauh lebih ringan dibandingkan dengan Indonesia, saya saat itu sama sekali belum diajarkan tentang turunan, integral, energetika kimia, mungkin 80% dari materi UAN dan SPMB belum saya pelajari. Dengan kondisi seperti itu, seharusnya saya belajar 24/7, fokus pada pelajaran, tetapi prakteknya jauh dari itu. I go out a lot, terutama dengan teman2 sekalas 3F yang sangatlah kompak. Seingat saya, setiap hari Sabtu pasti kelas 3F ada acara. So yeah, it wasn’t the right time for me to hang out with friends and go out with boyfriend (ex), and yes my parents told me off for doing those two too often. However, I still managed. Biarpun saat baru pindah, saya sangat merasa pesimis terhadap kelulusan saya, tetapi untungnya UAN lulus. Setelah UAN, saya mengikuti SMUP (Seleksi Masuk UNPAD), dan untungnya lulus pilihan pertama Ekonomi Pembangunan. Saat SPMB, saya merasa lumayan relax karena sudah ada cadangan, tetapi tidak disangka juga lulus pilihan pertama Teknik Industri ITB.
Sekarang, saya sudah dua bulan lebih berada di ITB sebagai "Industrial Engineering" student. Sekarang sedang sedikit stress menghadapi hasil UTS kalkulus yang pas-pasan dan hasil UTS kalkulus yang jelek, tetapi hey it’s all process right??!! Saya sudah mengikuti beberapa macam Unit kegiatan mahasiswa diantara lain: LSS, Ganesh TV, Persma dan Kokesma. Saya juga mengikuti Kabinet Mahasiswa departemen Komunikasi Publik dan bergabung sebagai peserta Brigadir Ganesha 2006 (in which I have to do this autobio!!).
Rencana saya kedepan (AAaaargh, this is the hardest part).. Sejujurnya saya kurang ada visi misi motivasi hidup yang terdengar sangat patriotik dll. Sejujurnya saya merasa masih ingin main, go out, have fun, hang out, do stuff.. tapi kayaknya kurang pantes untuk ditulis sebagai tugas Brigas (ayo ingat, kita mahasiswa siap guna!!). Sebenarnya, saya mau jujur, sepertinya salah jurusan, lebih parah lagi, sepertinya salah universitas. Setiap orang sebenarnya menyarankan HI kalau ngga Fikom.. dan grafolog tenar, Pak Nimpoeno, malah bilang kalau saya ngga cocok di bidang studi ilmu eksak, dan malah menganjurkan ngambil HI, Fikom, Interior Desain dan Sastra Inggris (tapi sayang saat itu udah terlanjur ngembaliin formulir SPMB) dan ternyata malah lulus. Tetapi karena sudah terlanjur masuk Teknik Industri yang passing gradenya sangat tinggi dan kata orang prospectnya bagus, so why not try and do it??
Sebenarnya, saya ingin jadi wartawan, editor majalah, atau reporter, karena itu saya sudah mendaftar ke Persma dan Ganesha TV, dan juga Kabinet Mahasiswa departemen Kompub. Memang kurang nyambung dengan Teknik Industri, tapi kalau saya bisa mengambil pengalaman saat mengikuti unit, mungkin itu bisa menjadi modal untuk memulai karir sebagai reporter.
Kalau memang cita-cita saya harus ada hubungannya dengan Teknik Industri, saya sebenarnya ingin memulai dan memiliki perusahaan publisher. Dengan ini saya bisa bekerja di bidang yang saya minati yang juga berhubungan dengan program study yang saya ambil (perusahaan -> produksi -> manajemen dll -> teknik Industri – masih nyambung lah daripada jadi reporter). Selain itu, dengan mendirikan perusahaan publisher, saya juga membuka lapangan kerja yang dapat membantu mengurangi pengangguran. Isn’t that great!?

OMG OMG, I’ve written sooo much.. anyway, I might as well publish it.. Peta hidup yang ini mungkin bisa dipakai, tapi harus diedit dulu, dan kayaknya Brigas tidak mengizinkan bahasa non-formal dan mixed-up / multi languages dalam tugas..

<3 xOxo written by Kaca <3333