This is something that I wrote for my Mum right from the bottom of my heart :D

To           : Dr.Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP

  • Member of the RI (Republic of Indonesia) Parliament
  • Mother of Kaca, Amanda, Nilta, and Nahla.
  • Wife of Siswanda Harso Sumarto

Dear Mum,

This morning you have been inaugurated as a Member of RI Parliament. It is such a blissful moment. We are delighted to see you achieving success. However, being a Member of Parliament means that you do not only belong to me and the family but you also belong to so 230 millions of Indonesian citizens. Your time and your capacity just like all human beings are limited. I realised that I can’t always be your priority anymore now.

Of course I will not let my egocentric “daughterish” selfishness of always wanting a mother to nurture me, to take care of bits & pieces of everything I need, prevents Indonesia of having one of its brightest citizens to serve its people. After all for all of this time you have proven that balancing concern and struggle for society with commitment for family isn’t something impossible. So whoever stated that women with influential roles in society or efficacious careers have questionable performances as mothers, definitely never know Hetifah Sjaifudian.

I believe making this world and this nation a better place is a vision of many, including both of us. You have the chance of doing such thing in your hand now. Don’t let it go to waste. I plead to you to set me an example how to make this nation a better place. Show me how to lead because that’s one of the most precious things that a mother can ever give to her daughter.

I am very content to have you serving something much larger than myself. It is auspicious to gain the opportunity of sharing such an incredible mother with the people of the nation that she loves.

I know that you will always commit to your memory that our sacrifice of letting you go is within the purpose of ameliorating the condition of this country and I believe within the next 5 years that is exactly what you are going to do. Also remember that in doing so everyone in your family including me will always support you. Your concerns and your struggles are also ours.

For the nation we both love so dearly.

Your daughter,

Amirah Kaca S.

Saat ini, hampir semua orang membicarakan tentang kembali ke kampung halaman, tentang mudik. Saya jadi teringat tulisan GM yang ini:

Pulang adalah sepatah kata kerja yang bertuah. Berapa juta manusia bersedia berdesak-desak, menanggung panas dan rasa tak nyaman dan risiko celaka, luka, dan mati, dalam sebuah ritual raksasa tiap tahun yang disebut ”mudik”?

”Mudik”, sebagaimana ”pulang”, adalah pengertian ruang, tapi juga waktu. ”Pulang” berarti kembali ke tempat asal, ke titik di bumi dari mana aku berangkat, dulu.

Kini ritual itu kian dikukuhkan. Negara dan pasar menyesuaikan langkah dengan gegap-gempita: jawatan perhubungan, dinas kepolisian, perusahaan transportasi, pelayanan telepon…. Bila para peneliti sosial kini bicara tentang orang Indonesia yang semakin konservatif, ”pulang” adalah salah satu indikasinya.

Pernah ”pulang”, gerak ke masa silam, tak dianggap sebagai bagian dari zaman. Pernah hidup digerakkan gelora modernitas. Pada tahun 1930-an, S. Takdir Alisjahbana, pelopor Pujangga Baru itu, menulis sebuah sajak yang juga sebuah manifesto modernitas: temanya bukan pulang, melainkan pergi.

”Telah kutinggalkan engkau,” bisik Takdir kepada teluk teduh tempat asalnya. Dalam sajak yang terkenal itu ia putuskan untuk meninggalkan alam tenang yang dilindungi gunung. Sang penyair memilih laut luas tanpa proteksi: ia bebas, sebab itu ia berani menghadapi mara bahaya dalam ketakpastian cuaca.

Di masa itu, dalam semangat itu, ”pulang” adalah arus balik ke tradisi. Tradisi mengandung tuntutannya sendiri. Modernitas adalah pembangkangan: ada anak yang hilang.

Tentu ada juga luka. Tentu ada rasa bersalah ketika seorang anak tak hendak kembali dan ada rasa sakit ketika seutas akar dilepaskan. Tapi ”tak-pulang” adalah kondisi zaman. Bila pulang kini jadi ritual, dulu pergi adalah sebuah ritus. Hanya seorang yang disunat yang jadi dewasa.

Sajak Sitor Situmorang, Si Anak Hilang, dengan memukau melantunkan kembali melankoli kehilangan dalam ritus itu—ketika si anak muda pulang dari Eropa, menemui ibunya yang rindu dan dusunnya yang ingin tahu, tapi ternyata tetap ada yang putus. Saya kutip bagian akhir sajak itu:

Si anak hilang kini kembali
tak seorang dikenalnya lagi
berapa kali panen sudah
apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
ibu menghampiri ingin disapa
anak memandang ibu bertanya
ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
dingin Eropa musim kotanya
ibu diam berhenti berkata
tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
bapa lama sudah mendengkur
di pantai pasir berdesir gelombang
tahu si anak tiada pulang

Kita lihat, Sitor kembali menggunakan bentuk syair lama, bukan sajak bebas, tapi berbeda dengan sastra tradisional, dalam Si Anak Hilang terasa sebuah dunia subyektif yang intens. Anak muda itu berdiam diri, karena di kepalanya berlintasan ”dingin Eropa” yang belum sepenuhnya ia lupakan. Anak muda itu tak bicara, karena di hatinya ia menjauh dari suara di sekitarnya, juga suara kangen sang ibu.

Ada sikap mendua yang murung dalam sajak Sitor. Tapi pada akhirnya hanya gelombang yang berdesir yang tahu bahwa ia memang anak yang hilang. Gelombang: di pantai pasir itu ia datang dari jauh, tapi segera kembali ke laut. Kita tak tahu dari mana gelombang berasal, ke mana ia menghilang.

Dari mana sebenarnya kita berasal? Di tiap zaman selalu terdengar seruan agar kita ingat akan akar kita. Yang sering dilupakan adalah bahwa asal dan akar bukan sesuatu yang dengan sendirinya terpacak siap di dunia. Akar dan asal selamanya sebuah hasil seleksi terhadap ingatan kita sendiri. Seorang tak hanya berakar di Serang atau Seram; ia juga punya akar pada keluarga tertentu, dengan riwayat tertentu, di lapisan sosial dan dibesarkan dengan nilai tertentu. Tiap kali sebuah asal diberi nama dan disebut sebagai identitas, timbul masalah.

Saya pernah mengatakan, ”jati diri” adalah sebuah kata yang meragukan. ”Jati” berarti ”benar”; tapi mana sebenarnya ”diri” yang ”benar”? Tak hanya tersedia satu jawaban untuk itu. Pulang ke dalam ”diri” yang ”benar” pada akhirnya juga sebuah pengembaraan tersendiri, sebab yang ”benar” itu hanya tercapai sementara, semacam sebuah pelabuhan transito.

Pernah kita kenal sebuah talibun, sebentuk pantun enam baris yang berisi petuah:

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli beranak beli
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

Kata-kata itu datang dari masyarakat yang merantau, bukan menetap—dari mana lahir Takdir dan Sitor. Talibun itu memang tak mengekspresikan keputusan yang murung seorang anak yang hilang, tapi ada yang sejajar: perjalanan adalah pengakuan bahwa teluk yang terlindung telah ditinggalkan. Sang perantau tak berjalan untuk mencari ibu, melainkan ”induk semang”. Dengan kata lain, ia siap hidup dengan seseorang yang lain, yang bukan sanak keluarga tapi bersedia menerima sang perantau, yang juga asing.

Kini zaman berubah. Paradoks masa kini ialah ketika di jaringan Internet tapal batas raib, justru bertambah rasa takut kepada yang lain, yang bukan sanak sendiri. Suasana kian konservatif: orang bersiap pulang, walau mati menanti. Di masa lain, untuk sebuah pembebasan, ”Tak seorang berniat pulang, walau mati menanti.”

Itu sebaris sajak Hr. Bandaharo yang selalu menggetarkan.

~Majalah Tempo Edisi. 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007~

Bahan- bahan:
1-1/4 cups tepung (all-purpose)
3/4 cup cokelat bubuk
1-1/2 teaspoons baking powder
1/2 teaspoon garam
1 cup mentega (unsalted) dalam temperature ruangan
1-1/2 cups gula bubuk
2 butir telur
1/2 cup susu
1 teaspoon vanilla extract

1. Panaskan oven sekitar 180 derajat Celcius
2. Ayak tepung, cokelat bubuk, baking powder, dan garam. Campurkan di dalam satu mangkok besar.
3. Di mangkok terpisah, kocok mentega dan gula bubuk menggunakan mixer sampai gula benar-benar tercampur. Masukkan telur satu per satu sampai tercampur.
4. Masukkan bahan-bahan kering ke adonan nomer 3 sedikit demi sedikit (1/2 cup) dan campurkan menggunakan mixer.
5. Tambahkan susu dan vanilla, kocok sampai lembut. Tuangkan ke loyang muffin yang sudah dialasi kertas cupcake.
6. Keluarkan cupcake dari oven setelah 15-17 menit.
7. Dinginkan selama 30 menit tetapi kalau mau langsung dimakan juga enak.
8. Setelah dingin, hias cupcake dengan buttercream atau gula bubuk.

Di rumah saya tersedia beberapa mobil, salah satunya adalah mobil jazz berwarna biru yang gampang dikemudikan (karena merupakan mobil automatic). Meskipun bukan hak milik saya (tentu saja mobil tersebut adalah milik orang tua saya), saya diberikan wewenang untuk menggunakan mobil tersebut setiap saat saya membutuhkannya. Meskipun saya sendiri merupakan pelanggan transportasi publik yang cukup loyal, kegiatan saya yang semakin bervariasi dan seringkali membuat pulang larut malam membuat saya sedikit terlena dengan fasilitas mobil tersebut. Saat seluruh keluarga kecuali saya dan adik saya, Amanda, pindah ke Jakarta begitupula dengan mobil-mobil keluarga yang biasanya tersedia. Saya pun tidak memiliki mobil yang bisa saya gunakan setiap saat. Tentunya hal tersebut meresahkan saya karena memang biasanya keresahan muncul saat kenyamanan-kenyamanan yang biasa dimiliki tidak lagi ada. Melihat keresahan saya, orang tua bahkan berpikir untuk membeli satu mobil baru.

Hari ini, saya pergi ke kampus menggunakan angkot. Tidak begitu banyak penumpang di angkot, mungkin dua atau tiga. Saya memilih untuk duduk di sebelah Supir Angkot, di tempat duduk yang paling depan. Sang Supir Angkot terlihat seperti Supir Angkot biasanya. Saya biasanya membagi supir angkot ke dua kategori: yang baik dan yang tidak sopan. Yang ini termasuk kategori kedua. Hal ini terlihat bagaimana Supir Angkot membentak saat seorang penumpang membayar dengan jumlah kurang lima ratus rupiah, cara mengemudi yang ugal-ugalan, dan tentu saja angkot selalu diberhetikan untuk waktu yang cukup lama di setiap tempat pemberhentian strategis. Untung saja saya tidak terburu-buru sehingga saya tidak begitu merasa keberatan dengan “pengeteman” yang dilakukan tetapi tentu saja sikapnya membuat saya sedikit risih.

Bapak Supir Angkot itu selalu menggerutu. Posisi saya yang berada di bangku depan angkot dan di sebelah Sang Supir cukup strategis untuk memulai perbincangan. Dimulai dari gumaman-gumaman sendiri, Bapak itupun akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada saya. “Sekarang ini, angkot itu cuma bisa keiisi satu dua orang. Orang-orang pada pake motor semua. Liat aja depan belakang banyak motor. Udah pada ngga mau naik angkot. Jadinya hidup makin susah.”, kira-kira itu ringkasan keluhan Sang Supir Angkot. Beliau juga menyatakan harapan agar masyarakat yang sudah memiliki fasilitas transportasi pribadi dapat masih mau meluangkan dua atau tiga hari dalam seminggu untuk menggunakan angkot. Semua Beliau katakan dengan logat yang keras, kata-katanya terdengar marah dan kesal.

Saya pun langsung sadar bahwa ketidaksopanan supir angkot kemungkinan besar merupakan wujud frustasi dan cara mengemudi mereka yang serampangan adalah bentuk kekhawatiran. Rasa bersalah pun muncul mengingat bahwa saya seringkali menggerutu saat angkot”ngetem”. Biasaya saya suka mengeraskan dumelan-dumelan saya serta menghentakkan kaki ke lantai angkot beberapa kali untuk menunjukkan bahwa saya terburu-buru.

Percakapan itu pun harus berhenti saat angkot sudah sampai di tempat tujuan. Saya pun memberhentikan angkot dengan mengatakan “kiri, kiri”. Saya memberikan uang dan mengucapkan terima kasih. Sang Supir Angkot tetap menggerutu dan melempar uang dua ribu lima ratus yang saya berikan ke dashboard seperti yang dia lakukan kepada uang yang diberikan oleh penumpang-penumpang sebelum saya. Beliau bahkan tidak membalas ucapan terima kasih yang saya katakan. Karena sudah berbincang-bincang beberapa saat, saya mungkin berharap Sang Supir Angkot bisa bersikap sedikit ramah. Pada saat itu pula saya melihat bahwa angkot telah menjadi kosong. Tidak ada satu bangku pun yang terisi. Mungkin karena itu Sang Supir Angkot masih menggerutu. Mendadak saya merasa tidak membutuhkan mobil lagi. Mungkin saya memang dibutuhkan oleh supir-supir angkot.

Dunia pendidikan memiliki filosofi yang berisi tujuan, aplikasi, dan interpretasi dari pendidikan dan pembelajaran itu sendiri. Untuk lebih spesifiknya, perguruan tinggi yang merupakan bagian dari dunia pendidikan juga mengemban tugas yang mengarah kepada filosofi pendidikan tersebut. M. Hatta mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tugas penting untuk membentuk manusia susila demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, dan cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat.

Di perguruan tinggi, peran mahasiswa yang pokok dalam pendidikan memang untuk belajar dan menimba ilmu. Akan tetapi mahasiswa bukan hanya bisa menjadi penyerap atau penerima ilmu. Status mahasiswa juga memiliki pengaruh yang besar sehingga perannya dalam pendidikan tidak hanya untuk berada di bawah stuktur hirarki institusi pendidikan tinggi. Karena itulah kemahasiswaan terbentuk dan aktor utama dalam kemahasiswaan hanya ada satu, yaitu mahasiswa yang mengemban peran sebagai pembelajar: pembelajar ilmu pengetahuan serta kemampuan-kemampuan yang dapat digunakannya untuk mendukung pengetahuan bidang yang dipelajari.

Dapat dilihat dari pembahasan diatas bahwa, untuk memenuhi tugas perguruan tinggi, setiap mahasiswa diharapkan dapat memenuhi tiga kualitas yang telah disebut. Akan tetapi, pembelajaran yang dimasukkan dalam kurikulum formal institusi pendidikan tinggi biasanya tidak mencakup pengembangan mahasiswa kepada seluruh tiga kualitas yang telah disebutkan. Pendidikan dalam kelas lebih mengarah pada bagaimana mahasiswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan.

Untuk memenuhi seluruh kualitas yang dibutuhkan, mahasiswa membutuhkan sarana untuk mengeksplor pendidikan lebih dari apa yang dipelajari di ruang kelas. Kemahasiswaan berperan sebagai suatu sistem pendukung bagi para mahasiswa untuk dapat membentuk dan mengarahkan diri mereka menjadi mahasiswa yang ideal. Intinya, kemahasiswaan memberi nilai tambah (added value) berupa pengalaman serta kemampuan atau keahlian yang dapat digunakan untuk membuat diri mereka memenuhi syarat dalam bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat serta cakap dalam memangku jabatan di masyarakat. Kemahasiswaan juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sudah memelihara ilmu pengetahuan karena telah mengerti apa yang dipelajari di kelas, untuk memajukan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan ide-ide mereka bersama mahasiswa-mahasiswa lain.

Peran kemahasiswaan dalam dunia pendidikan sangatlah penting karena kemahasiswaan merupakan salah satu elemen yang mendukung tujuan utama dari filosofi pendidikan itu sendiri. Kemahasiswaan merupakan sesuatu yang bisa menggerakkan serta memotivasi para mahasiswa untuk melakukan sesuatu sebagai pembelajar dan seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf Inggris bernama Herbert Spencer bahwa “The great aim of education is not knowledge, but action.”

— essay untuk Fit & Proper Test tahun lalu yang baru ditemukan lagi

“Socrates learned to dance when he was seventy because he felt that an essential part of himself had been neglected.”

Hari ini saat membereskan kamar, saya kebetulan menemukan video dengan label tulisan: Choreography Past + Present Term 1. Wow, ternyata video ini adalah video salah satu dance performance/production yang saya lakukan zaman dulu di Aberfoyle Park High School, Australia dan langsung terbawa ke memori-memori saat itu. Sesuai dengan label di video tersebut, tema dari dance production tersebut adalah mengadaptasi berbagai macam karya koreografer-koreografer terkenal sepanjang masa. Saya sendiri (bersama kelas saya) ikut dalam dua tarian, yang satu terinspirasi oleh Doris Humphrey dan yang satu lagi terinspirasi oleh Bob Fosse.

Untuk tarian pertama, saya dan teman-teman mengadaptasi tarian “Water Study” yang merupakan salah satu karya koreografi Doris Humphrey dan menamakan tarian kami “Aqua Essence”. Doris Humphrey sendiri adalah salah satu pioner tari modern Amerika, setipe dengan Isadora Duncan. Hal tersebut terlihat pada penemuan teknikal Humprey tentang ide mengenai “fall and recovery”. Humprey melihat kehidupan dan tarian sebagai “busur diantara dua kematian” atau “arc between two deaths”. Dua kematian yang dimaksud disini adalah keheningan sebelum dan setelah keheningan. Humprey tidak terlalu tertarik presentasi visual dari tarian itu sendiri, tetapi tariannya dapat bergerak dalam waktu dan ruang sehingga menciptakan ritme yang melebihi suatu efek visual.  Di zaman tersebut saat kebanyakan koregorafer masih memiliki obsesi terhadap gerakan yang bersifat balet dengan gerakan yang memaksa tungkai dan lengan, Doris Humprey menciptakan kesepahaman antara tarian dengan gravitasi yang merupakan gaya universal yang memotivasi tubuh. Bahkan Doris Humprey mengatakan, “A movement without motivation is unthinkable”.
Tarian water study merupakan salah satu karya terkenal Doris Homprey, dan tarian originalnya tidak memakai musik dalam pertunjukannya. Jadi bisa dibilang tarian ini dimainkan dalam kesunyian. Tetapi, untuk pertunjukan Aqua Essence, kami memakai musik, takut orang-orang tidak bisa mengerti atau mungkin mengira bahwa sound system-nya rusak. Akan tetapi, penerapan prinsip-prinsip Humprey tetap diterapkan dalam tarian tersebut.

Tarian yang kedua sebenarnya merupakan karya tarian kelas lain, dan kelas saya cuma menjadi “figuran” disana. Mengangkat tema “Chicago” yang merupakan salah satu karya Bob Fosse yang terkenal. Tarian kedua ini memakai lagu “All that Jazz” yang pasti langsung mengingatkan orang pada panggung musikal Chicago. Tarian yang kedua ini bercerita tentang sekumpulan gadis-gadis yang melakukan audisi tari. Disaat teman-teman kelas lain yang berperan sebagai gadis lolos audisi memakai kostum hitam-hitam elegan dengan stocking jala-jala dan terlihat cantik, saya yang berperan sebagai gadis yang kalah audisi cuma memakai Tshirt dan training (yang hitam-hitam juga) yang tidak terlihat manis hahaha. Memang sudah peran. Tarian tersebut bukan spotlight bagian saya, tetapi siapa yang bisa menolak untuk menari?

During the holiday, I got the chance for a short escape to Borneo after a long time never being able to explore islands out of Java.

I flew off Java with great excitement and expectations about this particular island I’ve never been in. When I think of Borneo, I think about its lucious green rainforests with Asian Amazon running through the land like veins. I realised just as I arrived, the habitat of people, look not much different from the ones in Java.

The time the plane landed, I was welcomed by the sparkles of Balikpapan below me. I could realised tall building along the edge of oceans so I was convinced that Balikpapan is just the same as other Indonesian cities turning metropolitan. Fore sure, it doesn’t look remote. Neither it looks provincial. However, at that time I still hoped that during my trip I will somehow encounter those lucious rainforests like the hill where Dian Fossey devoted her life for gorillas, hiding behind the mists.

From Balikpapan, it was a few hours trip to Samarinda. Along the road, lands covered with plants stretched across. However, theyweren’t some sort of jungle so I asked, “Where’s the jungle?”. I can sum up the answers I received and came up with a conclusion that there’s no more jungle except in the most remote area that I probably won’t encounter during my trip. All of the jungles are mostly gone due to heavy activities of mining and such. East Borneo has very little jungle these days. Most of the jungles are only left in Central Borneo because of its far location from the coast. Therefore Central Borneo has very little mining or industrial activity there. The fact that I won’t encounter any jungle was another dissapointment, but I found something that trully amazes me. As we entered Samarinda, I could see a body of water stretching across. I was the Mahakam river, but at a glance it looks more like a lake or even the sea. It was so wide, that it just automatically support my image about Borneo’s Asian Amazons. From all of the rivers I’ve seen: The Ciliwing, the Citarum, the Torrens, Charles river, Brisbane river, The Chao Praya are almost nothing in term of width.

Later on, I also heard about the poignant story of the Mahakam pesuts (similiar to dugongs). Mahakam was famous for this fresh water creatures. These days, due to many heavy activites on the river, nobody has ever seen the existence of these pesuts. Maybe a few people have seen a couple of pesuts but far away on the upstream of Mahakam. The rest of the pesuts, are only statues, paintings, and the local government logo. It’s heartbreaking to know to see these fresh water dolphins swept away by the big boats that carry coals and nobody knows in which corner of the river they are hiding :’(

Actually written on Samarinda, 20th January 2008 but I only had time to copy it to a blog posting right now. Just a story to share.

Mengingat beberapa hari yang lalu waktu melihat acara Grand Fina Mojang Jajaka Jawa Barat, salah seorang finalis ditanya mengenai pendapatnya tentang aturan yang mengharuskan kuota calon legislatif sebesar 30%. Finalis tersebut (saya lupa dari mana), yang tentu saja wanita, memberikan jawaban panjang lebar yang kurang lebih meliputi bahwa hal itu dikarenakan wanita memiliki tingkat intelegen yang sama dengan pria, bahwa wanita memiliki kepemimpinan dengan kelembutan hati dan kepintara, pernyataan dia bangga menjadi wanita dan tentu saja contoh-contoh komprehensif tentang pemimpin-pemimpin wanita di Indonesia dan di dunia. Saya sendiri lupa dia ngomong apa, yang pasti jawaban dia terdengar sangat baseless dan tidak relevan.

Bila kita pikirkan, aturan kuato caleg yang minimal 30% wanita sebenarnya merupakan indikasi bahwa bahkan pada zaman sekarang dimana kedua gender katanya sudah berkedudukan sama, ternyata wanita masih menghadapi berbagai halangan dan tantangan untuk dapat bisa berkecimpung di bidang politik. Halangan dan konstrain tersebut saya kira merupakan faktor -faktor eksternal seperti sempitnya ruang gerak dalam parpol untuk politikus wanita dan preferensi dunia politik yang masih lebih mengedepankan calon Pria dibandingkan calon wanita. Padahal di dunia politik yang memiliki budaya maskulin, perempuan patut menjadi agen perubahan. Faktor internal sendiri tidak menjadi masalah, karna banyak wanita yang memiliki kompetensi yang sama atau mungkin lebih bagus dari Pria.  Jadi saat finalis tersebut mengatakan bahwa wanita memiliki kecerdasan dan kemampuan dan kualitas yang sama dengan pria, saya setuju. Tetapi dia tidak menyatakan fakta, bahwa bahkan dalam keadaan equal dengan pria, ternyata wanita masih belum diberikan kesempatan yang sama.

Dengan kondisi sejauh ini yang masih kurang mendukung wanita untuk dapat maju dalam kancah politik, tentunya aturan 30% ini penting untuk menciptaan keadaan yang lebih mendukung dan kondusif bagi wanita. Saya rasa aturan ini dapat berfungsi untuk menghilangkan barrier-barrier dan konstrain yang dihadapi wanita di bidang politik yaitu masih belum adanya penerimaan secara penuh terhadap calon wanita maupun preferensi masyarakat politik yang nota bene masih dikuasai oleh kaum Pria. Bila saat ini jumlah calon wanita 30% terwujudkan dan dalam beberapa tahun publik maupun masyarakat politik dapat melihat kompetensi-kompetensi wanita-wanita yang ada, persepsi dan preferensi yang tidak menghambat gerak wanita dalam politik tentu akan menghilang (atau berkurang). Tentu saja aturan ini dimaksudkan hanya untuk menciptakan masa transisi. Saya sendiri mengharapkan di masa depan aturan ini sudah tidak relevan atau dibutuhkan. Saya mengatakan hal tersebut karena bila pada saatnya sudah mencapai kondisi ideal dan tidak ada lagi barrier maupun konstrain yang menghambat wanita untuk ikut serta dalam politik, saya yakin calon legislatif wanita bisa mencapai angka lebih dari 30%, tanpa adanya aturan mengenai proporsi caleg wanita.

Saya ingin mendengar pertanyaan grand final Moka tersebut dijawab dengan pendapat yang lebih kritis dan tepat sasaran. Tapi itulah kelemahan pageant, susahnya memberikan jawaban singkat untuk sebuah topik (yang sebenarnya membutuhkan analisis yang cukup dalam) di panggung yang penuh dengan pernak-pernik.

I came from the dreamtime from the dusty red soil plains
I am the ancient heart, the keeper of the flame
I stood upon the rocky shore
I watched the tall ships come
For forty thousand years I’d been the first Australian.

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.
I came upon the prison ship bowed down by iron chains.
I cleared the land, endured the lash and waited for the rains.
I’m a settler.
I’m a farmer’s wife on a dry and barren run
A convict then a free man I became Australian.

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.
I’m the daughter of a digger who sought the mother lode
The girl became a woman on the long and dusty road
I’m a child of the depression
I saw the good times come
I’m a bushy, I’m a battler
I am Australian

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.

I’m a teller of stories
I’m a singer of songs
I am Albert Namatjira
I paint the ghostly gums
I am Clancy on his horse
I’m Ned Kelly on the run
I’m the one who waltzed Matilda
I am Australian

[chorus]
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian.

I’m the hot wind from the desert
I’m the black soil of the plains
I’m the mountains and the valleys
I’m the drought and flooding rains
I am the rock, I am the sky
The rivers when they run
The spirit of this great land
I am Australian

(chorus)
We are one, but we are many
And from all the lands on earth we come
We share a dream and sing with one voice:
I am, you are, we are Australian
I am, you are, we are Australian.

by Judith Durham

Saya yakin kebanyakan warga Bandung mengalami sakit hati yang sama seperti saya begitu mengetahui bahwa Babakan Siliwangi akan segera dikomersialisasikan. Saya sudah tidak perlu menuliskan lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah kota dengan membuat kebijakan ini atau dampak-dampak buruk yang akan terjadi karena sudah banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Bahkan bila tidak mengetahui secara pasti, bisa langsung dibayangkan dampak-dampak buruk tersebut.
Tidakkah aneh bila seorang pengambil kebijakan di kota sebesar Bandung tidak bisa menyadari kebutuhan warganya? Para ahli tata kota, lingkungan, sosial yang ingin ikut serta membicarakan hal ini atau ingin mencari informasi dihalang-halangi (saya tahu dari seseorang). Apakah kurang jelas bahwa dampak buruk lingkungan yang akan terjadi tidak sebanding dengan pendapatan yang akan diterima pemerintah dari investasi (kalau Bandung jadi hancur karena banjir dan air habis apa masih ada yang mau investasi!!!!)? Apakah kurang jelas juga bahwa warga lebih membutuhkan ruang terbuka yang inklusif dibandingkan dengan mall yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya? Saya rasa pejabat-pejabat kota Bandung tidak sebodoh itu.. Sepertinya mereka tidak melakukan ini untuk kesejahteraan warganya dan tentu saja ada aspek politis dari isu ini. Mengapa walikota kita menahan izin pembangunan di babakan siliwangi saat periode pemilu walikota, tetapi setelah terpilih kembali dan dilantik, langsung memberikan izin? I think we all can see clearly what happened. I guess people can do anything for power, even if it means the destruction of others..
PS: Saya sudah lihat bahwa banyak teman-teman saya yang menuliskan tentang Babakan Siliwangi di blog mereka. Saya rasa kita semua peduli dan sedih akan hal yang sama.

By the way, you can read about my Mum’s opinion on this issue here

Next Page »